Sabtu, 24 Desember 2011

MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN


AECT (Assosiation of education and communication technology) menyatakan bahwa media video termasuk kedalam teknologi audiovisual dalam kawasan pengembangan pembelajaran. Teknologi audiovisual merupakan salah satu komponen yang ada selain teknologi cetak, teknologi berbasis komputer dan multimedia (Warsita, 2008:26). Media video adalah media yang  menggambarkan suatu objek bergerak  yang digabungkan dengan  suara  (Arsyad, 2009:9), dapat diatur percepatan gerakannya (dipercepat atau diperambat). Hal ini memungkinkan  media video efektif bila digunakan untuk membelajarkan pengetahuan yang berhubungan dengan unsur  gerak (Warsita, 2008:30).
                 Isi pesan audiovisual pembelajaran dapat disimpan dalam berbagai bentuk misalnya CD (compact disc) maupun media lain sehingga memungkinkan untuk dioperasikan menggunakan video player, komputer, yang dilengkapi dengan electronic projektor  jika ingin ditayangkan di depan kelas atau bahkan melalui siaran televisi pendidikan. Menurut Arsyad (2009:51), penggunaan media video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan televisi dapat dilakukan namun dituntun oleh seorang guru, isi pesan sesuai dengan tujuan, berurutan dan terpadu. Namun begitu media televisi memiliki kelemahan yaitu hanya mampu menyajikan informasi searah, sehingga pada saat film diputar dan terus berjalan sementara tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami pesan. Berbeda halnya jika seseorang menyampaian pesan pembelajaran dalam kelas menggunakan video player, pesan dapat dipercepat,  diperlambat atau diulang hingga siswa memahami isi pesan.
                Media video pada awalnya digunakan untuk menyampaikan hiburan dan bersifat komersial pada akhirnya dapat dimanfaatkan dan terintegrasi ke dalam sistem pembelajaran sebagai media video pembelajaran. Media video pembelajaran ini dirancang dan diproduksi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.

Karakteristik Media Video
                Confucius, seorang filsuf China lebih dari 2400 tahun yang lalu mengatakan bahwa “apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, dan apa yang saya lakukan saya paham”. Dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode ceramah, kecepatan guru dalam berbicara tidak sama dengan kecepatan siswa dalam mendengar dan menangkap apa yang disampaikan oleh guru.  Hal ini didasarkan pada penelitian Mc Keachie pada 1986 yang menemukan kenyataan bahwa pada sepuluh menit pertama siswa masih bisa berkonsentrasi untuk mendengarkan ceramah guru, setelah itu siswa cenderung mulai bosan mendengar dan pikiran mereka tidak fokus pada pelajaran lagi (Silberman, 2009:1-3).
Dari pernyataan tersebut jika media dilibatkan dalam pembelajaran,  dan dilakukan praktik atau siswa terlibat langsung, maka siswa akan lebih menguasai pelajaran dan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Media yang memenuhi keriteria tersebut adalah media yang melibatkan indera penglihatan (berupa gambar) dan indera pendengaran (berupa suara) yaitu media audio video yang salah satunya dikenal dengan video pembelajaran.
Belawati (2003) menyebutkan bahwa karakteristik teknologi video mampu menyajikan gambar bergerak dan suara secara simultan sangat bermanfaat untuk pemahaman materi yang diajarkan. Berbagai hasil penelitian disebutkan jika seseorang menerima informasi melalui indera pendengaran dan indera pendengaran secara simultan dapat menghasilkan tingkat retensi 85% setelah tiga jam kemudian dan masih bertahan 65% setelah tiga hari kemudian. 
Kemampuan video dalam memvisualisasikan materi efektif untuk membantu seorang guru untuk menyampaikan materi yang bersifat dinamis, misalnya mendemonstrasikan materi pelajaran seperti gerakan motorik tertentu, ekspresi wajah, maupun lingkungan tertentu. Melalui teknologi video seorang guru dapat memfokuskan perhatian pada bagian-bagian tertentu yang diperagakan. 
Media audio visual atau sering disebut video mempunyai potensi tinggi dalam penyampaian pesan maupun kemampuannya dalam menarik minat dan perhatian peserta didik. Media video  telah terbukti memiliki kemampuan yang efektif (penguasaan materi lebih dari 70%) untuk menyampaikan informasi, hiburan dan pendidikan.  Dengan demikian, media video pembelajaran adalah salah satu satu media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam pencapaian kompetensi atau tujuan pembelajaran (Warsita, 2008).
Media video pembelajaran merupakan produk teknologi manusia sehingga keberadaan media tersebut sebagaimana media pembelajaran lain memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai salah satu karakteristik. Kelebihan dan kekurangan video diuraikan oleh beberapa ahli disajikan sebagai berikut.

Kelebihan media video
American Hospital Association pada 1978 dalam Belawati (2003) mengungkapkan kelebihan media video antara lain
1.       Bermanfaat  untuk menggambarkan gerakan, keterkaitan dan memberikan pengaruh terhadap topik yang dibahas
2.       Dapat diputar ulang
3.       Dapat dimasukkan teknik lain seperti animasi
4.       Dapat dikombinasikan antara gambar diam dan gambar bergerak
5.       Proyektor standar dapat ditemukan dimana-mana
Arsyad (2009:49) menambahkan kelebihan lain media video antara lain
  1. Dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar siswa ketika mereka membaca, berdiskusi dan praktik. Film merupakan pengganti alam sekitar  dan mampu menggambarkan objek seperti aslinya.
  2. Selain mendorong motivasi siswa, juga dapat menanamkan sikap dan segi afektif yang lain misalnya tayangan video membuat siswa sadar terhadap pentingnya kebersihan makanan dan lingkungan.
  3. Dapat menyajikan peristiwa berbahaya yang tidak mungkin untuk disaksikan secara langsung seperti gunung meletus
  4. Dapat melayani siswa secara individu maupun kelompok.
  5. Dapat menyajikan gambaran sebuah proses yang lama menjadi lebih singkat seperti mekarnya sebuah bunga.

Kelemahan media video
Keterbatasan atau kelemahan video secara umum disampaikan oleh Anderson dalam Gafar (2009) antara lain:
  1. Peralatan video yang akan digunakan  harus sudah tersedia di kelas sebelumnya
  2. Penyusunan naskah skenario perlu waktu dan membutuhkan keahlian
  3. Biaya produksi media video sangat tinggi dan tidak banyak guru yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi video
  4. Membutuhkan layar atau proyektor yang memadai jika ingin digunakan untuk pembelajaran klasikal atau massal
  5. Perubahan yang pesat dalam teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan keterbatasan  sistem video menjadi masalah yang berkelanjutan.
Selain memerlukan biaya yang tinggi dalam pengadaannya, Sanaky (2009:106) menambahkan keterbatasan media video antara lain tidak dapat dioperasikan di sembarang tempat karena membutuhkan listrik, komunikasi searah sehingga sulit dilakukan umpan balik terhadap siswa, dan guru mudah tergoda memutar VCD yang bersifat hiburan sehingga akan mengganggu proses belajar.
Anderson menuliskan keterbatasan media video pembelajaran tersebut merupakan kelemahan dalam hal perangkat keras (hardware) dan sumber daya guru, dan bukan terletak pada sistem pembelajaran.  Peningkatan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran dengan media video pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh seorang guru dalam memfasilitasi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan keterbatasan media video yang diungkapkan oleh Sanaky (2009:106) selain aspek hardware juga dilihat dari aspek pembelajaran. Namun keterbatasan tersebut bukan terletak dalam penyampaian isi pesan, melainkan faktor keterampilan dan disiplin guru yang menyebabkan proses belajar terganggu.

Unsur-unsur Media Video
Belawati (2003) menuliskan bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam media video adalah gambar bergerak dan suara. Kedua unsur ini oleh penonton (siswa) disadari atau tidak telah membuat  mereka menikmati sajian yang terdiri dari informasi berbentuk gambar bergerak (movie image) dan suara (audio). Dalam tayangan video pembelajaran, unsur gambar merupakan unsur utama dan unsur suara sebagai pelengkap. Hal ini berarti bahwa gambar merupakan perhatian  utama indera penglihatan siswa, dan suara sebagai  penguat dan penjelas gambar yang sulit divisualisasikan. Susilana dan Riyana (2008:18) selanjutnya menyebutkan bahwa unsur gambar yang terdapat dalam tayangan video terdiri dari gambar diam, gambar bergerak, animasi dan teks, sedangkan unsur suara yang mendukung gambar bergerak dalam tayangan video terdiri dari narasi, dialog, sound effect, dan musik.
Kemampuan video dalam menyampaikan pesan mampu mempengaruhi pemirsanya. Materi atau pesan tersebut disampaikan kepada pemirsa tergantung dari siapa yang akan menyaksikan. Sehubungan dengan jenis pesan atau materi yang terdapat dalam tayangan video, Asnawir dalam Munadi (2008:119) mengklasifikasikan film menjadi 10 jenis yaitu film informasi, film kecakapan, film apresiasi, film dokumenter, film rekreasi, film episode, film sains, film berita, film industri dan film provokasi. Dilihat dari klasifikasi tersebut, media video Grafting  dapat digolongkan ke dalam film kecakapan dan film dokumentar karena didalamnya terdapat informasi untuk untuk melatih skill penontonnya dan merupakan tayangan yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon agar setiap pengunjung memberi komentar atas konten terkait, di tunggu ya trims