Jumat, 23 Desember 2011

PERSPEKTIF HISTORIS LANDASAN PENDIDIKAN


 
1. Pengantar
Pendidikan tidak terlepas dari kehidupan manusia sejak dilahirkan. Manusia menerima pendidikan dari orang tua, sekolah dan lingkungannya. Pada mulanya orang tua memperlakukan anak-anaknya  dengan insting untuk kelangsungan hidupnya, misalnya melindungi anak, menyusui anak dan menyayangi anak. Dengan bersumber pada  pengalaman dan cara berpikir, manusia mampu meningkatkan  dan menciptakan cara-cara mendidik.
            Untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada masa yang akan datang, tidak terlepas dari pendidikan di masa lampau yang berisi informasi tentang kejadian yang didasari konsep-konsep tertentu. Informasi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk memajukan pendidikan. Dengan melihat informasi bidang pendidikan dimasa lampau, manusia dapat menilai dan membandingkan  apakah pendidikan yang sudah dilakukan sudah sesuai dengan keadaan dan tujuan pendidikan sekarang sehingga dapat dijadikan sebagai pembanding untuk memajukan suatu bangsa.

2. Perumusan masalah
Sejarah pendidikan di Indonesia tidak terlepas  dari sejarah Bangsa Indonesia yang panjang dimulai dari kerajaan-kerajaan  Nusantara, masa penjajahan, masa perjuangan dalam merebut kemerdekaan hingga masa Reformasi saat ini. Bangsa Belanda yang menjajah Indonesia tiga setengah abad tentu saja banyak memberikan corak dan warna terhadap pendidikan di Indonesia.
Dalam makalah ini akan dibahas sejarah pendidikan dunia dan sejarah pendidikan Indonesia dari zaman kerajaan Nusantara, zaman penjajahan Belanda sampai zaman Reformasi.
 
3. Pembahasan
3.1. Sejarah pendidikan Dunia
  1. Sebelum abad 17
Sejarah pendidikan dunia dimulai pada Zaman Helenisme tahun 150 SM-500, Zaman Pertengahan tahun 500-1500 M, Zaman  Humanisme atau Renaissance, Reformasi, Kontra Reformasi tahun 1600-an. Pada abad ini pendidikan  mengarah pada dunia ide dan dunia surga, sehingga pendidikan  pada zaman ini kurang memberi kontribusi   pada pendidikan zaman sekarang.

  1. Abad ke-17
Pada abad ini biasa disebut dengan zaman Realisme. Pada abad ini pendidikan  mengarah   pada kehidupan dunia dan bersumber dari keadaan dunia. Pendidikan banyak bersumber pada penemuan-penemuan dalam bidang astronomi dan penemuan daerah-daerah  baru.
      Tokoh-tokoh pendidikan pada zaman Realis ini adalah Francis Bacon dan  Johann Amos Comenius. Prinsip pendidikan yang dirumuskan oleh Francis Bacon yaitu:
  1. Pendidikan lebih dihargai dari pada pengajaran sebab mengembangkan  semua kemampuan manusia.
  2. Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri.
  3. Penanaman pengertian  lebih penting dari  pada hafalan.
  4. Pelajaran  disesuaikan dengan perkembangan anak.
  5. Pelajaran harus diberikan  satu per satu
  6. Pengetahuan diperoleh dengan metode induksi
  7. Semua anak harus mendapatkan kesempatan yang sama untu belajar.
Comenius mengisyaratkan  metode pembelajaran yang sesuai  dengan hukum-hukum  alam  dengan cara:
  1. Belajar melalui peragaan di alam terbuka dengan observasi/ penelitian  sehingga jawaban suatu masalah dapat terjawab dari alam sendiri.
  2. Pelajaran harus dari yang mudah ke yang sukar.
  3. Kata-kata merupakan  ekspresi dari pengetahuan yang telah dipahami.
 
  1. Abad ke-18
Pada abad ini berkembang:
a.      Paham Rasionalis yang  memberikan  keleluasaan bagi manusia untuk berfikir sendiri dan bertindak sendiri, sehingga mereka berkeyakinan  bahwa akal adalah sumber pengetahuan dan pengetahuan merupakan  hasil pengolahan akal. Paham ini dipelopori oleh John Locke yang berpendapat bahwa
1.      Proses belajar merupakan hasil pengamatan dari luar tubuh manusia
2.      Proses belajar dilakukan dengan cara mengingat dan menghafalkan
3.      Berfikir merupakan pengolahan bahan-bahan yang diperloleh dan ditimbang-timbang untuk diri sendiri.
b.      Paham Naturalis
Paham Naturalis dipelopori oleh JJ Rousseau yang menentang Paham Rasionalis, yang menghendaki  keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati. Pendidikan yang diajarkan paham ini dilaksanakan secara alamiah  dengan asas mengajar yaitu
    1. Asas  pertumbuhan, pengajaran  harus memberi kesempatan untuk anak-anak  yang sedang bertumbuh  dengan cara memperkerjakan mereka sesuai dengan kebutuhannya.
    2. Asas aktivitas,  melalui pekerjaan anak akan menjadi aktif yang akan memberi pengalaman dan akan menjadi pengetahuan bagi mereka.
    3. Asas individualitas, pendidikan disesuaikan dengan individuk masing-masing anak sehingga dapat berkembang menurut alamnya sendiri.

  1. Abad ke-19
Pada abad ini berkembang:
a.      Developmentalisme
Paham Developmentalisme  memandang proses pendidikan sebagai suatu  perkembangan jiwa yang berlangsung pada setiap individu yang merupakan hasil aktivitas dan reaksinya terhadap lingkungan. Tokoh Developmentalisme antara lain Pestalozzi, Johan Frederich Wilhelm Frobel dan Stanley Hall dengan konsep pendidikan antara lain:
    1. Mengaktualisasi semua potensi anak yang bertumbuh, membentuk watak dan keprobadian harmonis seta meningkatkan derajad sosial manusia.
    2. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dilakukan dengan cara
(1)   Mengontrol perkembangan anak
(2)   Membentuk tanggapan yang jelas sehingga terbentuk asosiasi pada jiwa anak
(3)   Mengembangkan insting dan menempa anak
(4)   Melalui impresi indra dan emosional  menjadi ekspresi pengetahuan dan moral.
    1. Pengembangan dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
b.      Nasionalisme
Paham Nasionalme  muncul sebagai upaya untuk membentuk patriotisme dan mempertahankan bangsa dari penjajah. Paham ini dipelopori oleh La Chalotais, Fichte dan Jefferson yang mengutamakan pendidikan sekuler, pendidikan jasmani dan pendidikan kejuruan untuk menjaga, memperkuat dan mempertinggi kedudukan negara. Dibeberapa negera seperti  Jerman dan Italia muncul wajib belajar yang memunculkan sifat chaufinisme di Jerman yaitu kegilaan teradap  tanah air dan merasa unggul dari bangsa lain.
c.       Liberalisme dan Positivisme
Paham Liberalisme dibidang pendidikan ditandai dengan adanya pemanfaatan sekolah sebagai alat untuk memperkuat kedudukan penguasa. Paham ini menghasilkan sikap individualisme karena pihak yang banyak  pengetahuan maka dia akan berkuasa.
Sedangkan Positivisme menganut sistem pendidikan yang mempercayai kebenaran  yang dapat diamati oleh panca indera.

  1. Abad ke-20
Pada abad ini ditandai dengan munculnya Paham sosial dalam bidang pendidikan yang dipelopori oleh Paul Natorp, George Kerschensteiner dan John Dewey yang memandang bahwa masyarakat mempunyai arti yang lebih esensial dibandingkan individu. Pandangan paham ini tentang pendidikan dapat  ditulis sebagai berikut:
    1. Masyarakat lebih  penting dari individu
    2. Kebenaran pragmatis merupakan hal yang dicari dan dipelajari sehingga meningkatkan kehidupan manusia
    3. Perlu didirikan sekolah dengan perlengkapan kerja
    4. Penggunaan metode belajar yang mengaktifkan anak
    5. Menekankan belajar dengan bergaul dan bekerja
    6. Membentuk watak susila, paham akan teori dan dapat bekerja di masyarakat sebagai tujuan pendidikan.
Tokoh pendidikan  lain pada abad 20 ini adalah Maria Montessori, Ovide Decrolu dan Hellen  Parkhurst yang mempunyai pandangan:
a.      Pendidikan bersifat individual yang menyesuaikan masa peka anak dengan berbagai alat peraga.
b.      Menggunakan metode global dalam membaca dan menulis.
c.       Pelajaran bersumber dari pusat-pusat minat di sekitar kehidupan manusia.
d.      Pelajaran dalam bentuk tugas.

3.2. Sejarah Pendidikan Indonesia
1. Masa sebelum Kemerdekaan
a. Pendidikan Hindu Budha
Ajaran Hindu dan Budha di Indonesia terjadi pada saat kerajaan-kerajaan Nusantara berdiri antara lain Kutai, Tarumanegara, Bali, Melayu, Sriwijaya, Mataram Hindu, Singasari  dan Majapahit. Pendidikan pada zaman ini bermuatan agama yang dilaksanakan di biara-biara atau padepokan dan berkembang  dengan  ilmu pengetahuan yang meliputi sastra, bahasa, filsafat, ilmu pemerintahan, tata negara dan hukum. Pada masa keemasan kerajaan nusantara ini juga banyak bermunculan  para empu dan pujangga besar yang melahirkan karya seni bermutu tinggi.
b. Pendidikan Islam
Agama Islam pertama disebarkan ke Indonesia oleh pedagang Gujarat melalui  Samudra Pasai dan Aceh di Sumatera, sedangkan di Jawa Islam disebarkan melalui Banten, Cirebon, Demak, hingga ke Gresik. Penyebaran Islam pertama berkembang di daerah pesisir  dan berkembang di pedalaman seiring dengan runtuhnya kerajaan bercorak Hindu.
Pendidikan Islam masa ini  dilakukan di surau atau langgar, pondok pesantren  dan madrasah dibawah bimbingan  guru ngaji dengan materi Al Quran dan fikih dasar. Santri tinggal di pondok pesantren yang mempelajari agama Islam dan rasa hormat kepada guru tanpa menerima upah dari santri.

c. Pendidikan Katolik
            Agama Katolik disebarkan di Indonesia oleh pedagang Portugis pada abad ke-16 untuk mencari rempah-rempah yang disertai oleh misionaris. Di daerah yang diduduki mereka mendidik penduduk setempat dengan mendirikan seminari untuk mengajarkan agama, membaca, menulis dan berhitung.

d. Pendidikan pada zaman VOC
Bangsa Belanda datang ke Indonesia untuk berdagang dan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya dengan memonopoli  perdagangan dan menguasai suatu daerah di Nusantara. Setelah seluruh Nusantara jatuh ketangan VOC, mereka  tidak punya keinginan untuk berbuat banyak untuk memajukan daerah jajahan kecuali mengeruk kekayaan dan menyebarkan agama.
VOC pertama kali mendirikan sekolah  pada 1607 dengan tujuan menyebarkan agama  Protestan di Ambon untuk orang Pribumi, dan di Batavia pada 1630 untuk mendidik anak Belanda dan anak Jawa. Kurikulum yang berlaku adalah kurikulum yang berkaitan dengan gereja, dengan tujuan untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompeten untuk VOC.

e. Pendidikan pada zaman Kolonial Belanda
Pada 1816 pendidikan dilaksanakan oleh pemerintah Belanda karena VOC bangkrut dengan sedikit lebih terbuka, karena tidak hanya menyebarkan agama saja tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menghasilkan tenaga kerja yang murah. Pendidikan pada masa ini diutamakan untuk anak-anak Belanda dimulai pada 1817 yang disediakan untuk anak Belanda dan Eropa serta segelintir anak pribumi yang kaya dari golongan priayi. Kurikulum yang diterapkan adalah  kurikulum yang dipengaruhi  ide liberalisme dimana pengetahuan diperoleh melalui penelitian ilmiah empiris dengan tujuan mengembangkan kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial.
Gubernur Jendral Van der Capellen (1898-1823)  menganjurkan  pendidikan rakyat yang berdasarkan kultur masyarakat desa untuk belajar membaca, menulis dan mengenal budi pekerti yang diselenggarakan  oleh  lembaga-lembaga pribumi. Ini dilakukan karena pemerintah Belanda menghormati pemimpin setempat dan kesulitan finansial karena Perang Diponegoro, Perang Imam Bonjol dan Perang Belanda-Belgia di Eropa .
Pada 1848 Pemerintah Belanda mengucurkan dana pendidikan £25.000 untuk  pendirian sekolah Bumiputera dengan tujuan menghasilkan tenaga kerja pribumi yang murah. Sekolah Pendidikan Guru didirikan pada 1852 dan pada 1890 pemerintah kolonial memberi subsidi kepada  sekolah dari berbagai agama.
Politik Etis (1900-1920) memberikan pengaruh yang sangat besar karena salah satu programnya yaitu membebaskan  rakyat secara berangsur-angsur  dari ketidakmatangan  melalui pendidikan, yang memungkinkan seluruh penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan. Kurikulum untuk EKS terdiri atas  membaca, menulis, perhitungan ,Ilmu Bumi, Ilmu Alam, sejarah, menggambar dan mengukur tanah, sedangkan ELS mengajarkan membaca, menulis dan berhitung serta melarang pelajaran agama.
Selain sekolah yang didirikan pemerintah, berdiri pula sekolah yang didirikan oleh pihak swasta antara lain Muhammadiyah pada 1912, Taman Siswa pada 1922 dan INS Kayu Tanam pada 1926. INS Kayu Tanam didirikan oleh M. Syafei dengan tujuan  mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang merdeka. Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara dengan azas kemerdekaan individu, kemerdekaan berpikir, kebudayaan sendiri, kerayanm amandiri, sederhana dan mengabdi kepada anak didik. Sedangkan Muhammdiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan yang bertujuan  mewujudkan orang-orang muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi bangsa dan negara.
Pendidikan yang diselenggarakan pemerintah kolonial bersifat gradualis, dualis, kontrol sentral, konkordansi dan tidak terencana secara sistematis untuk penduduk pribumi. Namun mempunyai dampak positif bagi bangsa Indonesia yaitu perubahan pandangan perjuangan yang besifat kedaerahan menjadi nasional dengan berdirinya Budi Utomo pada 1908, yang mempunyai  keinginan mendirikan sekolah swasta untuk menghidupkan  dan menggalang rasa kebangsaan, cinta budaya sendiri, melestarikan dan mengembangkannya.
Berdirinya Budi Utomo diikuti dengan  berdirinya Sarikat Islam dan kesadaran berbangsa yang dideklarasikan dalam Sumpah Pemuda pada 1928 serta pendirian partai-partai bercorak Nasional. Sumpah Pemuda ini awal dari kebangkitan bangsa Indonesia untuk merdeka yang akhirnya diprokamasikan pada 17 Agustus 1945.

f. Pendidikan Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang yang hanya tiga setengah tahun ternyata memberikan  corak pendidikan di Indonesia karena Jepang menghapuskan sistem pendidikan warisan Belanda yang  didasarkan atas status sosial dan ras. Sekolah pada masa Jepang adalah SR, SMP, SMT dan sekolah kejuruan yang mengajarkan pertukangan, teknik menengah, pelayaran dan pelayaran tinggi. Sedangkan  pendidikan tinggi pemerintah mendirikan kedokteran di Jakarta dan tenik di Bandung yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. Pendidikan zaman Jepang  berisi doktrin  yang berisi kesetiaan kepada Jepang serta siswa dilatih secara fisik, dan latihan kemiliteran.

2. Masa Setelah Kemerdekaan (1945-1965)
            Pendidikan pada masa setelah Proklamasi belum bisa dilaksanakan sepenuhnya karena masih disibukkan berbagai persoalan bangsa. Pendidikan pada masa ini ditekankan  untuk menanamkan jiwa patriotisme untuk mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.
            Kurikulum yang semula berlaku untuk kepentingan pemerintah Belanda  diubah untuk kepentingan Bangsa Indonesia, dengan tujuan untuk  meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat, meningkatkan pendidikan jasmani, meningkatkan pendidikan watak, memberi perhatian pada kesenian, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dan mengurangi pendidikan pikiran.
  
3. Masa Pembangunan
            Setelah gangguan dalam negeri mereda, bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dalam segala bidang baik spiritual maupun material yang dikenal dengan Pembangunan Jangka Panjang I. Dalam masa ini pembangunan dibidang pendidikan  mengalami banyak perubahan dan kemajuan ditandai dengan makin luasnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan, meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan, meningkatnya mutu pendidikan dan semakin mantapnya sistem pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 1 tahun 1989 tentang UUSPN.
            Namun demikian  pendidikan nasional  masih dihadapkan pada tantangan  kuantitiatif yang berkenaan dengan  pemerataan  kesempatan untuk memperoleh kesempatan pendidikan dan tantangan kualitatif yang berkenaan dengan  peningkatan mutu, relevansi dengan pembangunan, efektivitas dan efisiensi pendidikan. Sementara  dalam dunia pendidikan juga terdapat kesenjangan okupasional, akademik,  kultural dan temporal. Untuk itu seharusnya banyak didirikan SMK dengan konsep link and match sehingga dihasilkan lulusan yang siap kerja dan siap pakai.

4. Masa Reformasi
            Sistem pendidikan pada masa reformasi ditandai dengan adanya sistem desentralisasi pendidikan yang sejalan dengan sistem peemerintahan. Sistem desentralisasi pendidikan belum berada pada tingkat lembaga kecuali perguruan tinggi. Hal ini disebabkan  kemampuan personalia  pendidikan belum memadai, diperparah lagi dengan adanya perpindahan pegawai pendidikan dari pusat ke daerah dan dari provinsi ke kabupaten sementara keahlian belum tentu sesuai.
            Reformasi dibidang pendidikan juga terjadi dengan dibentuknya komite sekolah dan dewan pendidikan sebagai partner sekolah, diterapkannya kurikulum sekolah dan adanya perubahan paradigma  pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan  yang mendahulukan afektif dibandingkan dengan penguasaan materi. Setelah orde baru jatuh, kehidupan demokrasi tumbuh dengan baik dimasyarakat dan  penataran P4 yang dilaksanakan disekolah juga dihilangkan karena penekanan penataran selama ini hanya pada penguasaan materi, bukan pada perubahan sikap sehingga peserta penataran perilaku tidak berubah walaupun berkali-kali mengikuti penataran.

4. Kesimpulan
1.      Pendidikan di Indonesia sebelum kedatangan Bangsa Eropa menekankan kepada agama, sastra, filsafat, seni, bahasa, ilmu pemerintahan, ilmu tata negara dan hukum
2.      Kedatangan Bangsa Portugis dan Belanda (VOC) selain ingin berdagang, juga mempunyai misi menyebarkan agama dan mendirikan sekolah yang mengajarkan agama, membaca, menulis dan berhitung.
3.      Pemerintah Kolonial Belanda menyelenggarakan pendidikan di Indonesia dengan menarik garis pemisah antara anak-anak Eropa dengan pribumi, gradualis dan tidak terencana.
4.      Pemerintah  Indonesia menyelenggarakan pendidikan pada semua bidang tanpa membuat satu perbedaan ditandai dengan makin luasnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan dan berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dari waktu ke waktu.

Daftar Pustaka
Nasution, S. 2001. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Pidarta, M. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Supriadi, D dan Mulyana, R. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon agar setiap pengunjung memberi komentar atas konten terkait, di tunggu ya trims